Postingan

Bagaimana Kabarmu?

Hai, lama tak berjumpa. Lelah sekali rasanya beberapa tahun terakhir ini. Sejak pandemi semua berubah drastis. Semua yang mudah dan dipenuhi kebahagiaan, mulai berubah menjadi kesulitan dan berat hati. Sering kali aku hanya bisa diam dan memandangi langit-langit kamarku. Kenyataan memukulku keras sekali. Dulu aku kira menjadi dewasa itu menyenangkan. Ternyata tidak juga. Menjadi anak kecil dengan segala keterbatasan pengetahuan akan kehidupan nyata adalah berkah. Tidak sekalipun pernah kulihat anak yang normal termenung memikirkan kehidupan. Mereka bahagia tanpa alasan. Aku tidak bilang kalau aku depresi. Hanya saja belakangan ini aku mulai sedikit tertawa. Sulit rasanya untuk tertawa dengan banyak hal yang mempersulit keadaan yang sudah sulit.  Juga, aku sangat sering kehilangan semangat. Tidak lagi aku sangat bersemangat akan hal-hal yang dulu jadi obsesiku. Bahkan sebaliknya, aku hanya ingin diam menikmati kesunyian dan menatapi langit malam yang cerah. Tapi aku jalani semuanya ...

Anomali

Gambar
Pagi hari ditemani playlist  lofi , langit temaram. Suasana paling nyaman yang aku rasakan. Ditambah kosongnya hari, sempurna. Menjadi latar untuk mengingat kembali waktu-waktu yang lebih baik. Masa-masa di mana waktu lebih lambat. Tak terbesit sedikitpun di pikiran tentang kulit berkerut dan tenaga yang terkuras. Ketika dunia terbuka di depan mata, dan aku berjalan diatasnya sebagai kanvas kosong. Ketika aku sibuk berlarian ke sana kemari. Kini, hari-hari melelahkan. Meskipun aku hanya merebah sepanjang hari, pikiranku yang membuatku lelah. Rutinitas yang nyaris serupa. Momen yang tidak umum akan terasa menyenangkan. Melepaskan diri dari bisingnya siang. Dan membiarkan diri tenggelam dalam ketenangan. Sesekali menjalani sesuatu yang berbeda tidak akan menyakitiku, kurasa.

"Nikmati saja."

Menurunkan harapan untuk hal-hal yang dianggap penting itu perlu. Aku kembali diingatkan akan hal itu setelah tim sepak bola kesayanganku semakin kecil peluangnya untuk jadi juara musim ini. Sebenarnya ini memang tidak terlalu penting, sih. Jadi juara ataupun tidak, mereka tidak kenal aku. Jadi apa untungnya buat mereka kalau tahu aku mendukung mereka? Ini hanya sebuah simbiosis komensalisme. Oke, kembali ke topik. Harapan membuat manusia tegerak. Dalam konteks ini, manusia akan melakukan banyak hal agar harapan mereka bisa tercapai. Sampai sering kali lupa untuk menikmati proses. Saat masih sekolah dulu, aku punya cita-cita jadi astrophysicist . Katakanlah seperti Neil deGrasse Tyson. — Walaupun dulu aku belum tahu siapa dia. Sekarang, aku punya angan-angan untuk menjadi penulis novel. Salah satu alasan aku membuat blog ini adalah untuk membiasakan diriku untuk menulis. Tapi sering kali aku sangat terpaku untuk menyelesaikan cerita yang aku tulis tanpa menikmati proses menulis itu sen...

Kembali Berkelana, dan Sebaliknya

Gambar
Hmm... dia di sini, Tapi entah kemana Rasanya aneh Atau mungkin, Dia memang jauh Ia hadir, Tapi hatinya berkelana Mungkin sudah waktunya Bergerak mengikuti arah hati Ah, sebaiknya ku biarkan saja Mungkin ia mencari rumah baru Jika memang ia tak menemukannya Kelak ia akan kembali Ke tempat yang akan selalu menjadi rumah

Seperti Waktu, Semuanya Berlalu

Kemarin, sepertinya aku melihat dia. Aku sendiri tidak yakin. Seorang yang dulu pernah aku cintai. Berdiri, Ia menjatuhkan pandangannya ke segala arah. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang. Bisa saja ojek online yang ia pesan, atau dia yang meminangnya saat pernikahan. Bagaimanapun, Ia terlihat indah dengan segala sesuatu yang ada dalam dirinya. Ya, dia bukanlah milikku. Tapi setiap melihatnya, hati ini terasa gerah. Aku hanya bisa mengagumi dari kejauhan. Bukan jarak, tapi jurang pemisah yang semu. Dia milik orang lain. Orang-orang bilang bahwa tingkatan tertinggi dalam mencintai adalah mengikhlaskan. Itu mudah. Yang lebih dalam bagiku adalah ikut bahagia ketika melihat mereka yang berarti bagiku bahagia. Dan aku bahagia. Sama seperti mereka.

(D)evolusi?

Gambar
Tahun 2022 berlalu begitu cepat. Tidak terasa sekarang sudah tahun yang baru, 2023. Entah apa saja yang aku kerjakan selama tahun lalu. Aku berharap, diriku masih seperti dulu. Tapi tidak. Aku berubah. Beberapa orang bilang tubuhku lebih berisi. Tapi itu mudah untuk diubah.  Aku takut diriku yang berubah. Bukan soal penampilan, tapi soal jati diri. Memang beberapa bulan ini aku sering berpikir "Whatever happens, happens." untuk membiasakan diri kalau aku memang kadang tidak sebaik yang aku harapkan. Tidak seperti yang ada di dalam angan-anganku. But here I stood my ground. I'm up for a change, for the worst or the best have yet to come.

Sebaran Jala Keributan

Gambar
  Begini ... yang kupikir, STY bicara begini, BUKAN karena dia bergantung ke ketum atas pekerjaanya. Tapi karena dia ikut prihatin dan mungkin merasa bertanggung jawab atas nama federasi karena tragedi yang terjadi, sedangkan mereka keparat-keparat di PSSI cuci tangan. Tidak seharusnya seorang pelatih merasa bertanggung jawab atas kegagalan sistem federasinya. Dia hanya bisa "makan apa yang ada di hadapannya". Jikalau memang STY keluar karena pengurus PSSI dirombak total, aku percaya karena murni dia merasa prihatin dan merasa menjadi bagian dari federasi yang rusak itu. Toh, jika memang STY yang terbaik buat Indonesia, dia akan dipanggil kembali. Lebih baik tenaga yang ada sekarang ini digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di depan mata. Seperti menangkap orang-orang yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut dan menyelesaikan urusan dengan keluarga para korban. Kemudian benahi federasi sedikit demi sedikit. Agar tidak ada yang merasa sakit, karena hilang cua...